Sunday, February 26, 2012

Candi Sambisari


"Pletak," ketika ujung cangkul menghantam batu yang begitu keras. kejadian tersebut membuat Bapak Karyowinangun heran dan berhenti sebentar untuk mengetahui yang sedang terjadi. Perlahan mendekati batu itu dan berjongkok untuk melihat lebih dekat lagi. Batu tersebut bercorak pada permukaanya. Bapak Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu. Dinding - dinding candi itu seolah melambai dan ingin menceritakan apa yang telah terjadi dengannya. Lama terkubur tanah akibat erupsi Gunung Merapi yang dahsyat di masa itu. Dari situlah awal diketemukannya sebuah bangunan candi yang berlokasi di Dusun Candi Sambisari

Dari kejadian tersebut Dinas Purbakala langsung melakukan penggalian dan menetapkan areal sawah Bapak Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Langkah-langkah lebih lanjut setelah penggalian adalah, melakukan pra-pemugaran yaitu, dengan mengelompokkan batu-batu yang sama jenisnya. Selanjutnya dilakukan penyusunan percobaan dan kemudian pemugaran. Hasil pemugaran candi Candi Sambisari tersebut terlaksana seperti yang terlihat sekarang ini. Satu hal yang unik dari candi Candi Sambisari yaitu, terletak 6.54 m di bawah permukaan tanah.

Sinar matahari menelusup diantara batu-batu candi yang indah dan menarik. Begitu juga dengan panorama Candi Candi Sambisari telah menelusup hati saya, membuat saya bersemangat untuk masuk dan berkeliling di candi tersebut. Ciri khas komplek Candi Candi Sambisari ini adalah berbentuk bujursangkar dari area Candi Utama kemudian area halaman dan ketiga area terluar. Komplek Candi Candi Sambisari dikelilingi pagar dengan tangga berundak sebagai akses untuk mencapai bangunan utama candi tersebut. Candi Candi Sambisari berbentuk bujur sangkar dengan luas 13.65 m x 13.65 m dengan tinggi 7.5m.

Mengenai tahun pendirian Candi Candi Sambisari secara pasti belum dapat diketahui, karena tidak adanya bukti-bukti konkret yang mendukung validitas penentuannya. Oleh karena itu, untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau dari berapa segi. Dari segi arsitektur, candi Candi Sambisari oleh Prof. Dr. Soekmono digolongkan ke dalam bangunan dari abad ke 8. Sedangkan berdasarkan batu isian yang digunakan di Candi Candi Sambisari yaitu, batu padas, maka masa pendiriannya semasa dengan candi Prambanan, Plaosan, dan Sojiwan sekitar abad ke-9 sampai dengan abab ke-10 M. Jenis batu padas ini banyak terdapat di bukit ratu Boko di Prambanan. Di tempat tersebut nampak bekas-bekas penggalian batu padas pada masa dulu. Berdasarkan kedua tafsiran tersebut, untuk sementara Soediman menempatkan pendidirian candi dalam dekade pertama atau kedua abad ke-9 M (812-838 M). Pendapat tersebut didukung dengan adanya penemuan sekeping daun emas bertulisan, karena berdasarkan tafsiran paleografis, Boechori bahwa tulisan itu berjalan dari sekitar permulaan abad ke-9 M

Melalui tangga kakiku terus melangkah masuk di area bangunan utama Candi Candi Sambisari. Di sini terdapat keunikan di bagian kaki-kaki candi, tidak mempunyai alas seperti candi di Pulau Jawa lainnya sehingga sejajar dengan tanah. Di bagian bawah candi ini juga tidak terdapat relief atau hiasan. Relief yang menjadi hiasan candi pada umumnya baru dijumpai pada bagian tengah tubuh hingga puncak candi. Di depan tangga pintu masuk candi utama terdapat dua patung berupa seekor singa yang berada dalam mulut makara yang terbuka. Figur makara di Candi Sambisari merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.

Pada bangunan candi induk dapat dijumpai lima buah relung, tiga diantaranya berisi arca. Beberapa arca dari pantheon agama Hindhu yaitu, Durga Mahesassuramardini (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata, Arca Ganeça (anak Dewi Durga). Arca Agastya dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya, serta Mahakala dan Nandiswara–tidak berada di tempat–sebagai penjaga pintu. Berdasarkan arca-arca yang terdapat di candi Candi Sambisari tersebut, maka dapat diketahui bahwa latar belakang keagaman candi Candi Sambisari bersifat Çiwaistis (berpusat pada Siwa). Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah. Lingga adalah perwujudan dari Dewa Siwa. Kesatuan, lingga dan yoni merupakan lambang persatuan Siwa dan Çakti-nya. Selain itu juga sebagai lambang kesuburan.
Kompleks Candi Candi Sambisari ini terdiri dari satu bangunan candi induk dan tiga candi perwara/pendamping. Ketiga candi perwara ini saling berhadapan langsung dengan candi induk. Melihat konstruksi bangunan candi perwara bahwa candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu bagian atap. Di komplek candi ini di sediakan ruang informasi untuk mengetahui proses penggalian dan rekonstruksi candi yang memakan waktu puluhan tahun. Di ruang informasi ini terdapat dokumentasi foto yang menampilkan kondisi dari area persawahan, proses penggalian dan rekonstruksi candi sampai dengan kondisi sekarang ini. Menata ulang keindahan Candi Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati sekarang ini merupakan hasil kerja keras dari para arkeolog selama dua dasawarsa lebih.
Foto - Foto Lain


Candi Prambanan


Prambanan adalah salah satu kompleks candi terbesar di Asia Tenggara yang kaya dengan arca dan relief. Kompleks candi ini terletak di Desa Prambanan dan secara administratif masuk dalam dua kabupaten dan dua provinsi sekaligus. Yaitu Kabupaten Sleman Provinsi DIY dan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 20 km dari kota Yogyakarta dan 40 km dari kota Surakarta. Selain karena berada di perbatasan, kompleks candi juga terjangkau dari berbagai arah karena berada langsung di pinggir Jalan Raya Yogyakarta - Solo.
Kompleks Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 850 Masehi. Masih belum pasti apakah Prambanan dibangun oleh Rakai Pikatan, raja kedua Wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu semasa Wangsa Sanjaya. Namun para peneliti besepakat bahwa kompleks Candi Prambanan ditinggalkan dan mulai rusak tidak lama setelah selesai dibangun. Candi Prambanan juga dikenal dengan nama lain, yaitu candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang. Nama yang kedua ini terkait dengan legenda dibangunnya candi.
Dalam legenda dikisahkan, Candi Prambanan dibangun oleh Bandung Bondowoso untuk memenuhi persyaratan dari Rara Jonggrang. Awalnya, Bandung Bondowoso yang jatuh hati pada kecantikan Rara Jonggrang hendak melamar putri raja itu. Rara Jonggrang yang tak mencintai Bandung Bondowoso tak berani menolak lamaran itu secara langsung. Makanya ia mengajukan syarat yang sulit pada Bandung Bondowoso, yaitu membangun candi dengan seribu arca. Dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso hampir dapat memenuhi persyaratan itu. Namun pada arca yang ke 999, Rara Jongrang meminta bantuan warga untuk menumbuk padi dan membuat api besar sehingga ayam pun berkokok karena mengira pagi telah datang. Bandung Bondowoso yang murka karena merasa dicurangi kemudian mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca yang ke 1000.
Kekayaan Prambanan akan relief bahkan menghasilkan berbagai cerita dan simbolisasi. Kisah Rama - Sinta merupakan salah satu yang tergambar di relief Prambanan. Dari relief salah satu candi di kompleks Prambanan pula burung mistik Garuda yang digambarkan sebagai setengah manusia setengah burung dikenal. Konon, dijadikannya Garuda sebagai lambang negara terinspirasi dari candi ini. Kini kompleks Candi Prambanan telah menjadi salah satu objek wisata paling diminati di Yogyakarta. Sejak 1991, kompleks Candi Prambanan
ditetapkan sebagai cagar budaya dunia oleh UNESCO.
Dalam kompleks candi terdapat tiga candi utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut melambangkan Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Setiap candi menghadap ke timur dan berdekatan dengan candi pendamping yang menghadap ke barat. Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi. Candi-candi utama di kompleks Prambanan menjulang tinggi sampai 47 meter, lebih tinggi lima meter dari Borobodur. Candi juga dikelilingi taman yang dapat dijadikan tempat istirahat pengunjung.
Bagi pengunjung ingin mengetahui lebih banyak tentang candi-candi Prambanan, dapat memasuki bangunan museum dekat kompleks candi. Dalam museum tersebut, pengunjung dapat menyaksikan tampilan audio visual yang menyajikan sejarah penemuan candi. Selain museum, tersedia pula taman bermain untuk anak dan kereta mini untuk mengantar pengunjung mengelilingi kompleks candi. Akomodasi di sekitar kompleks candi juga lengkap. Penginapan, rumah makan, dan toko oleh-oleh yang berjajar-jajar menunggu untuk dikunjungi.
Kompleks Candi Prambanan dibuka untuk umum dari pukul 08.00 - 17.00 WIB. Setiap malam bulan purnama, digelar Sendratari Ramayana dari pukul 20.00 - 22.00. WIB. (kotajogja.com)

Foto - Foto Lain



Masjid Kampus UGM

Masjid jika dimaknai secara luas bukanlah hanya sebagai tempat ibadah saja, mengoptimalkan fungsi masjid sebagai tempat pendidikan, aktifitas perdagangan/ekonomi, dan aktifitas kreatif lainnya. Sesungguhnya pengembangkan konsep masjid yang telah dituliskan diatas mengembalian idealisasi fungsi masjid pada jaman Rasulullah Muhammad SAW. Konsep ini mulai terlihat di Masjid Kampus UGM dengan lingkungan dan fasilitas yang memadai. Masjid Kampus UGM juga memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mewujudkan konsep masjid yang ideal. Lingkungan masjid yang berada. Disamping itu suasana Masjid Kampus UGM sangatlah nyaman karena lingkungannya yang asri dengannya banyak pohon yang terawat rapi.

Beranjak keluar dari konsep idealis Masjid Kampus UGM, masjid ini sudah menjadi salah satu objek wisata religius dan arsitektur. Animo masyarakat menjadikan masjid ini sebagai objek fotografi sudah banyak terdokumentasi melalui jaringan sosial media yang sengaja di unggah untuk menunggu respon teman-teman mereka. Salah satu tempat favorit untuk berfoto adalah gerbang masjid dengan panorama gapura lengkung yang terbuat dari batu. Gerbang melengkung ini menjadi perwajahan Masjid Kampus UGM. Terletak di pintu gerbang utama dengan berdiri kokoh didepan menyapa setiap pengunjung yang akan masuk di masjid tersebut. Setelah melewati gapura lengkung, pengunjung akan menikmati pemandangan sebuah kolam yang berhiaskan air mancur. Di tengah-tengah kolamdipahat kalimat Bismillah /dengan tulisan Arab.

Masjid Kampus UGM pertama kali dibangun bertepatan dengan mundurnya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 setelah berkuasa selama 32 tahun. Peletakan batu pertama oleh Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com. Masjid Kampus UGM digunakan untuk pertama kalinya pada 4 Desember 1999 atau 5 hari menjelang 1 Ramadhan 1420 H, setelah menghabiskan dana sebesar Rp 9,5 miliar. Lantai satu dan lantai dua beserta halaman masjid mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.

Rancang bangun Masjid Kampus UGM merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Masjid Nabawi, kebudayaan Tionghoa, India, dan Jawa. Gaya arsitektur Masjid Nabawi terlihat jelas pada lengkungan-lengkungan bangunan utama dengan hiasan kaligrafi yang makna tulisan itu mengagungkan nama Sang Pencipta. Rancang bangun masjid ini meruipakan perpaduan bahan lokal dan impor kualitas terbaik, pintu utama masjid serta daun pintu dibuat tinggi terbalut besi tempa, tembok yang berada di sisi kanan kiri pintu ditutup dengan keramik dari India. Lantai masjid terbuat dari marmer dan keramik berwarna hijau, merah, dan cokelat. Keramik untuk lantai yang berwarna hijaudidatangkan dari Brazil, warna merah dari Batu (Malang), dan keramik berwarna kecokelatan dari Korea. Tiang masjid jugad ibalut dengan keramik dan kuningan. Keramik yang berwarna hijau untuk tiang masjiddiimpor dari Brazil. Sedangkan semua yang berbahan kuningan, seperti aksesoris pada tiang,dinding, kaligrafi, hingga lampu gantung didatangkan dari Cepogo, Boyolali. Hiasan yang beradadi mihrab,ditiru dari mihrab salah satu masjiddi Iran yangdivisualisasikan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM dengan mengambil inspirasi dari bentuk rumah lebah

Kawasan yang sebelumnya berupa kuburan Cina itu, mengilhami arsitektur bangunan bergaya arsitektur Tionghoa. Inspirasi tersebut terwujud pada ornamen-ornamendi sekeliling masjid yang dominan dengan warna merah muda dan warna emas yang merupakan warna khas etnis Tionghoa.

Pengaruh India terlihat melalui penataan pekarangan masjid yang mengadopsi bangunan Masjid Taj Mahal. Penataan pekarangan tersebut, misalnya menanam berbagai macam pohondi sekeliling masjid, membuat kolam yangdilengkapi dengan air mancur, serta menanam bunga teratai di sekeliling kolam.

Arsitektur Jawa terlihat jelas pada bangunan utama dan kubah masjid. Kubah Masjid Kampus UGM berbentuk limasan sebagai representasi rumah adat Yogyakarta yang berbentuk Rumah Joglo dengan atap limasan. Tinggi struktur kubah mencapai 32 meter dengan lebar 21 meter. Kubah dan atap masjid ditopang dengan rangka baja. Kubah itudibuat dari bahan /policarbonat/transparan dan alumunium keemasan yangdidatangkan dari Korea.Di tengahruanganterdapat lampu gantung yang terbuat dari kuningan dengan jumlah bohlam sebanyak 32 buah. Lampu inidikontrol secara manual serta remote untuk menurunkannya. Berat lampu ini hampir mencapai 1 ton. Bahan atap dan kubah memangdibuat transparan dengan tujuan agar sinar matahari bisa masuk dan menerangiruangan masjid. Selain terlihat di Masjid Kampus UGM, konsep memadukan unsur lokal dengan unsur Islam juga terlihat pada arsitektur Masjid Al Markazdi Makassar, Masjid Agung Batam, dan Masjid Kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh November)di Surabaya.

Seluruh arsitektur Masjid Kampus UGM dikerjakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM. Selain ornamen yang khas, Masjid UGM juga mempunyai menara setinggi 99 meter. Tinggi menara menyesuaikan dengan /asmaul husna/ (nama-nama Tuhan yang baik) yang berjumlah 99 nama. Dari puncak menara ini para pengunjung dapat melihat lanskap wilayah Yogyakarta
.

Muhammad Fardiansyah/www.kotajogja.com)

Foto - Foto Lain

Jalur Bus Trans Jogja

Jika layanan bis kota patas di Jakarta adalah Trans Jakarta, maka untuk Yogyakarta disebut Trans Jogja. Layanan jenis ‘Busway’ yang dikelola Pemerintah Kota Yogyakarta secara resmi beroperasi sejak Januari 2008 lalu. Sekitar lebih dari 60 armada Trans Jogja sudah dioperasikan untuk melayani angkutan ‘Busway’ bagi masyarakat setempat maupun wisatawan (domestik maupun manca negara). Lain halnya dengan angkutan bis kota yang hanya beroperasi hingga pukul 18.00, maka Trans Jogja beroperasi mulai pukul 05.30-21.30. Adapun mengenai jalur Trans Jogja dan harga tiket dapat dilihat berikut ini.

JALUR TRAYEK TRANS JOGJA
Trayek 1A : Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - Stasiun Tugu - Maliboro - JEC
Terminal Prambanan - S5. Kalasan - Bandara Adisucipto - S3. Maguwoharjo - Janti (bawah) - S3. UIN Kalijaga - S4. Demangan - S4. Gramedia - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Maliboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Pasar Sentul - S4. SGM - Gembira Loka - S4. Babadan Gedongkuning - JEC - S4. Blok O - Janti (atas) - S3. Maguwoharjo - Bandara Adisucipto - S5. Kalasan - Terminal Prambanan.

Trayek 1B : Terminal Prambanan - Bandara Adisucipto - JEC - Kantor Pos Besar - Pingit - UGM
Terminal Prambanan – S5. Kalasan – Bandara Adisucipto – S3. Maguwoharjo – Janti (lewat bawah) – S4. Blok O – JEC - S4. Babadan Gedongkuning – Gembira Loka – S4. SGM – S4. Pasar Sentul - S4. Gondomanan – S4. Kantor Pos Besar - S3. RS.PKU Muhammadiyah – S3. Pasar Kembang - S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S4. Gramedia – Bundaran UGM – S3. Colombo – S4. Demangan – S3. UIN Sunan Kalijaga – Janti – S3. Maguwoharjo – Bandra Adisucipto – S5. Kalasan – Terminal Prambanan.

Trayek 2A : Terminal Jombor - Maliboro – Basen – Kridosono – UGM – Terminal Condong Catur
Terminal Jombor - S4. Monjali - S4. Tugu - Stasiun Tugu - Maliboro - S4. Kantor Pos Besar - S4. Gondomanan - S4. Jokteng Wetan - S4. Tungkak - S4. Gambiran - S3 . Basen - S4. Rejowinangun - S4. Babadan Gedongkuning - Gembira Loka - S4. SGM - S3. Cendana - S4. Mandala Krida - S4. Gayam - Flyover Lempuyangan - Kridosono - S4. Duta Wacana - S4. Galeria - S4. Gramedia - Bunderan UGM - S3. Colombo - Terminal Condongcatur - S4. Kentungan - S4. Monjali - Terminal Jombor.

Trayek 2B : Terminal Jombor – Termina Condongcatur – UGM – Kridosono – Basen – Kantor Pos Besar – Wirobrajan - Pingit
Terminal Jombor – S4. Monjali – S4. Kentungan – Terminal Condong Catur – S3. Colombo – Bundaran UGM – S4. Gramedia – Kridosono – S4. Duta Wacana - Fly-over Lempuyangan - S4. Gayam – S4. Mandala Krida – S3. Cendana – S4. SGM – Gembiraloka– S4. Babadan Gedongkuning – S4. Rejowinangun – S3. Basen – S4.Tungkak – S4. Joktengwetan – S4. Gondomanan – S4. Kantor Pos Besar – S3. RS PKU Muhammadiyah – S4. Ngabean – S4. Wirobrajan – S3. BPK – S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S4. Monjali – Terminal Jombor.

Trayek 3A : Terminal Giwangan – Kotagede – Bandara Adisucipto – Ringroad Utara – MM UGM – Pingit – Maliboro – Jokteng Kulon
Terminal Giwangan – S4. Tegalgendu – S3. HS-Silver – Jl. Nyi Pembayun - S3. Pegadaian Kotagede – S3. Basen – S4. Rejowinangun – S4. Babadan Gedongkuning – JEC - S4. Blok O – Janti (lewat atas) - S3. Janti – S3. Maguwoharjo - Bandara ADISUCIPTO - S3. Maguwoharjo – Ringroad Utara – Terminal Condongcatur – S4. Kentungan – S4. MM UGM - S4. MirotaKampus – S3. Gondolayu – S4. Tugu – S4. Pingit – Bundaran SAMSAT - S4. Badran – S3. PasarKembang – Stasiun TUGU - Maliboro – S4. Kantor Pos Besar – S3. RS PKU Muhammadiyah – S4. Ngabean – S4. Jokteng Kulon – S4. Plengkung Gading - S4. Jokteng Wetan – S4. Tungkak – S4.Wirosaban – S4. Tegalgendu – Terminal Giwangan.

Trayek 3B : Terminal Giwangan – Jokteng Kulon – Pingit – MM UGM – Ring Road Utara – Bandara Adisucipto – Kotagede
Terminal Giwangan – S4. Tegalgendu - S4. Wirosaban – S4. Tungkak – S4.Jokteng Wetan – S4. Plengkung Gading - S4. JoktengKulon – S4. Ngabean – S3. RS PKU Muhammadiyah – S3. Pasar Kembang – S4. Badran – Bundaran SAMSAT – S4. Pingit – S4. Tugu – S3. Gondolayu – S4. Mirota Kampus – S4. MM UGM - S4. Kentungan – Terminal Condong Catur – Ringroad Utara – S3. Maguwoharjo – Bandara Adisucipto – S3. Maguwoharjo – JANTI (lewat bawah) – S4. Blok O – JEC - S4. Babadan Gedongkuning – S4. Rejowinangun – S3. Basen – S3. Pegadaian Kotagede – Jl.Nyi Pembayun - S3. HS-Silver – S4. Tegalgendu – Terminal Giwangan.

PEMESANAN TIKET
Penumpang yang hendak memanfaatkan jasa layanan Trans Jogja diharuskan untuk membeli tiket yang disediakan di setiap Halte Trans Jogja. Penjualan tiket dilakukan di Point of Sale (POS) di halte Trans Jogja berikut ini:
1. Halte Bandara Adisucipto
2. Halte Terminal Jombor
3. Halte Laksda Adisucipto Ambarukmo Plaza
4. Halte Terminal Giwangan
5. Halte Senopati Taman Pintar
6. Halte Tentara Pelajar SAMSAT
7. Halte Jl. Kaliurang Kopma UGM
8. Halte Sudirman Bethesda
Ada dua jenis tiket yang disediakan/dijual di POS, yaitu:
1. Tiket Single Trip (sekali pakai), tarif Rp 3.000/SP
2. Tike Reguler, ada dua macam, yaitu:
Tiket Reguler Umum, tarif Rp 2.700/SP
Tiket Reguler Pelajar/Mahasiswa, tarif Rp 2.000/SP

Kedua jenis tiket ini dapat dibeli langsung di POS. Untuk tiket reguler, dijual seperti halnya membeli kartu perdana sehingga bisa dilakukan pengisian ulang apabila sudah habis. Isi ulang tersedia dalam nominal Rp 15.000, Rp 25.000, Rp 50.000, dan Rp 100.000.
Untuk informasi mengenai kartu Trans Jogja (Card Centre) dapat menghubungi:
Dinas Perhubungan Propinsi DI Yogyakarta
Jl Babarsari 30 Yogyakarta
Telp.: (0274) 485775 - (0274) 487335, Fax.: (0274) 485 405

Tuesday, February 21, 2012

Museum Rumah Budaya Tembi


Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan propinsi paling kecil yang berada di Pulau Jawa, tepat di tengah ujung selatan pulau ini banyak menyimpan potensi wisata baik budaya, alam dan minat khusus. Sebagai salah satu soko guru kebudayaan jawa kota Yogyakarta dan sekitarnya banyak menyimpan jejak-jejak sejarah kebudayaan Jawa. Salah satunya adalah Desa Tembi, pada masa lalu, dusun Tembi merupakan tempat abdi dalem katemben yang tugasnya menyusui anak-anak dan kerabat raja. Barangkali, itulah sebabnya desa ini disebut desa Tembi. Berkat latar belakang itu pula, hingga sekarang masih ada semacam kepercayaan bahwa dengan berkunjung ke Tembi seseorang bisa mendapatkan kemuliaan bak keluarga raja tempo dulu.

Kampung Tembi merupakan salah satu dari kawasan Kampoeng Kerajinan Gabusan-Manding-Tembi (GMT) Bantul yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 31 Agustus 2007. Sebagai kampung Wisata, selain menyediakan paket pembuatan aneka kerajinan; di kampung Tembi juga disediakan paket wisata kuliner tradisional; wisata keliling kawasan GMT (Gabusan-Manding-Tembi dengan mengendarai becak, andong, atau kereta mini; serta paket wisata bertani, termasuk memandikan kerbau; dan paket wisata outbound. Semua paket wisata ini bersifat fleksibel, misalnya bisa digabungkan dalam bentuk wisata seharian dan malamnya menginap di Omah Wirobrojo. Museum Rumah Budaya Tembi atau Tembi House of Culture, merupakan sebuah museum yang mengkhususkan pada kebudayaan jawa, khususnya kebudayaan Jawa yang berada di desa Tembi. Museum ini buka setiap hari Senin-Jumat, pukul 09.00-16.00 WIB. Luas bangunan utama museum ini seluas 212m², luas seluruh bangunan ini adalah 1057m², dan menempati tanah seluas 3500m².

Museum Rumah Budaya Tembi memiliki koleksi yang cukup variatif, koleksi yang tedapat di museum ini yaitu, peralatan tradisional masyarakat Jawa seperti peralatan dapur (tungku, dandang), persenjataan masyarakat Jawa (keris, tombak), peralatan untuk bertani (bajak), peralatan seni (gamelan, batik). Tak ketinggalan pula koleksi peninggalan berupa foto-foto jaman dahulu, poster kuno, sepeda maupun sepeda motor kuno, bahkan perpustakaannya memiliki koleksi naskah hingga mencapai kurang lebih 5000 buah. Fasilitas lain yang tersedia di Museum Rumah Budaya Tembi, terdapat ruang pameran, meeting room, tempat penginapan, restauran, kolam renang, dan pendopo yang lengkap dengan satu set gamelan. Museum juga menyediakan jasa guide yang akan siap memandu dan juga menjawab setiap pertanyaan tentang Rumah Budaya Tembi. Tersedia juga fasilitas antar jemput bagi pengunjung yang menginap dari bandara atau malioboro ke Rumah Budaya Tembi.

Kegiatan yang rutin dilakukan setiap bulan adalah pertunjukan tarian nasional dari Sabang sampai Merauke. Pertunjukan wayang juga rutin dipertunjukan di pendopo Rumah Budaya Tembi dengan dalang lokal yang berdomisili di daerah Bantul. Kegiatan tradisional juga menjadi salah satu paket kunjungan museum. Kegiatan tradisional tersebut meliputi membajak sawah dengan sapi, membatik, bermain gamelan, dll.

Untuk mengunjungi museum ini, tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Pendanaan museum ini diambil dari dana pribadi pemilik museum dan para kolektor yang menitipkan koleksinya di museum tersebut. Sumber dana yang lain didapat dari restaurant, penyewaan homestay, meeting room, galeri. Pendopo juga disewakan untuk acara-acara khusus seperti ulang tahun dan pernikahan, yang dapat menjadi salah satu sumber dana yang lain. Di dalam pengurusan museum, dibagi dua manajemen antara museum dan penginapan. Namun, dalam pengelolaan segala fasilitas yang ada di Yayasan Rumah Budaya Tembi, tidak terjadi ketidakteraturan. Hal ini karena setiap divisi memiliki pengawasnya masing-masing. Jadi, pengurus museum berbeda dengan pengurus penginapan. Namun, di antara mereka tetap ada kerjasama dan kekompakan.

Setiap pegawai maupun staf yang ada di Rumah Budaya Tembi sangat kompeten di bidangnya. Misalnya tour guide. Mereka tidak hanya tahu tentang Rumah Budaya Tembi, namun, benar-benar memahami seluk beluk kebudayaan Jawa. Seperti cara berdiri, tutur kata, menyambut tamu, dll. Dalam kegiatan pemasaran, museum ini mempunyai kerjasama dengan sebuah instansi di Jakarta. Begitu pula di internet. Museum ini mempunyai domain sendiri dengan alamat www.Tembi.org, yang tidak hanya memuat seputar museum saja, namun juga tentang segala aktifitas kebudayaan Jawa yang terjadi di sekitaran Yogyakarta. Museum ini juga pernah masuk ke dalam sebuah acara televisi, yang meliput tentang masakan khasnya, yaitu masakan Jawa yang mereka dapat dari sebuah tulisan Jawa Kuno, yaitu serat centini.

Lokasi : Jl. Parangtritis Km. 8,4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta,

(Ardian Ahmad/www.kotajogja.com)

Foto - Foto Lain





AMPTA Job Fair Pariwisata

Periode : Jumat, 24/02/2012 - Sabtu, 25/02/2012
Lokasi : Pendopo AMPTA Yogyakarta

Segera Hadir Job Fair khusus lulusan pariwisata. Kali ini Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA yang menyelenggarakan acara bertajuk AMPTA JOB FAIR Pariwisata. Job Fair akan diselenggrakan pada tanggal 24 - 25 Februari 2012 bertempat di Pendopo Ampta Yogyakarta. Bagi anda yang sedang mencari pekerjaan tepat rasanya untuk mencoba di AMPTA Job Fair Pariwisata ini.

Mega Bazaar Komputer 2012


Periode : Sabtu, 03/03/2012 - Rabu, 07/03/2012
Lokasi : Jogja Expo Center

MEGA BAZAAR COMPUTER 2012 adalah pameran yang hadir di 8 Kota besar : Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Medan, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta yang di organize oleh PT. Dyandra Promosindo. MEGA BAZAAR COMPUTER 2012 adalah pameran yang diselenggarakan ke 18 kalinya. Dan kali ini di Yogyakarta
JOGJA EXPO CENTER.

Kontak :
Fb : Dyandracommunity jogja, twitter @komputer_expo, atau website kami : www.megabazaarcomputer.com